alexametrics

Teknologi Rumah Susun Modular dengan Struktur Beton Bertulang Pracetak Sistem CL-Con

Fabiola Febrinastri | Restu Fadilah
Rusun asrama mahasiswa ITB di Jatinangor, Kabupaten Sumedang. (Dok: Kementerian PUPR)
Rusun asrama mahasiswa ITB di Jatinangor, Kabupaten Sumedang. (Dok: Kementerian PUPR)

Sistem CL-Con telah dikembangkan sejak tahun 2016.

Suara.com - Rumah susun (rusun) sebagai penghunian ke arah vertikal dianggap sebagai solusi dari tingginya permintaan akan perumahan di perkotaan, mengingat mahalnya harga tanah dan terbatasnya ketersedian lahan. Sistem struktur beton bertulang pracetak selama ini diharapkan dapat mengejar backlog perumahan karena dianggap dapat dikerjakan dengan cepat, namun terdapat kendala dalam mewujudkannya diantaranya karena tingginya investasi cetakan dan kesulitan pelaksanaan sambungan, sehingga diperlukan pengembangan teknologi konstruksi untuk menjawab permasalahan tersebut tanpa mengesampingkan persyaratan teknis.

Teknologi Rusun Modular memungkinkan dimensi komponen struktur kompatibel untuk berbagai pola denah bangunan sehingga meminimalisasi variasi cetakan. Sistem CL-Con merupakan sistem sambungan pracetak yang sederhana sehingga mudah dilaksanakan dengan menggunakan material yang umum di pasaran. Sistem pracetak ini memenuhi syarat Sistem Rangka Pemikul Momen Khusus (SRPMK) yang dapat diterapkan di berbagai wilayah dengan tingkat kegempaan tinggi di Indonesia.

Sistem sambungan kolom-balok, dan pelat lantai. (Dok: Kementerian PUPR)
Sistem sambungan kolom-balok, dan pelat lantai. (Dok: Kementerian PUPR)

Sistem CL-Con dikembangkan tahun 2016 oleh Tim Peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Perumahan dan Permukiman, melalui serangkaian pengujian laboratorium. Perancangan rusun modular dilakukan tahun 2017 untuk mendapatkan desain yang optimal dalam penerapan sistem pracetak namun tetap mengakomodasi desain prototipe dari Direktorat Rumah Susun. Selanjutnya tahun 2018 dilaksanakan aplikasi Teknologi Rusun Modular berupa asrama mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) di Jatinangor oleh Direktorat Rumah Susun, Direktorat Jenderal Perumahan.

Rusun Modular ITB Jatinangor memiliki luas lantai dasar 500 meter persegi dengan tinggi 5 lantai, luas per unit 24 meter persegi (T24) dapat dihuni oleh 3–4 orang dengan konsep penempatan unit double loaded single corridor. Rusun ini memiliki fungsi publik dan hunian. Pada lantai dasar terdapat fasilitas ruang pengelola, ruang pertemuan, pantry, dan unit hunian untuk difabel, sedangkan lantai 2 sampai lantai 5 digunakan untuk hunian. Total unit hunian sebanyak 59 unit, diharapkan menampung 240 mahasiswa. Kamar mandi dan toilet pada rusun ini adalah komunal dan ditempatkan di sisi kiri dan kanan bangunan. Rusun ini dilengkapi 2 tangga di ujung kiri dan kanan pada setiap lantai bangunan. Komponen struktur utama beton bertulang pracetak yang diterapkan pada rusun modular ITB Jatinangor meliputi:

Baca Juga: Desain Pasif Pada Purwarupa Rusun Rendah Energi di Kota Tegal

1.  Kolom. Dimensi kolom 40 cm x 40 cm dengan 2 jenis tulangan utama yang digunakan. Tulangan utama 8D22 digunakan untuk lantai dasar hingga lantai 3. Sementara itu, lantai 4–5 menggunakan tulangan utama 8D19.

2.  Balok. Dimensi balok 25 cm x 40 cm dengan tinggi balok yang dicor pracetak 28 cm. Tulangan utama daerah tumpuan dipasang 4D19 untuk tulangan atas dan 2D19 untuk tulangan bawah. Sementara di daerah lapangan dipasang sebaliknya.

3.  Pelat lantai. Tebal pelat lantai 12 cm dengan tulangan D10-150 baik lapis atas maupun bawah.

Beberapa keunggulan Teknologi Rumah Susun Modular di antaranya: Kriteria perancangan dan detailing mengikuti peraturan struktur bangunan tahan gempa terkini, teknologi sambungan pracetak sederhana dan mudah dikerjakan, sehingga waktu pekerjaan lebih singkat dan biaya total bangunan dapat diredusir hingga 20%.

Muhammad Rusli, Perekayasa Ahli Muda
Balai Bahan dan Struktur Bangunan Gedung, Kementerian PUPR

Baca Juga: Rusun Tanah Tinggi Terbakar, Satu Warga Jadi Korban dan Dilarikan ke RS