alexametrics

KBRI Tokyo Promosikan Budaya dan Produk Bali Melalui Lokakarya Pembuatan Canang

Fabiola Febrinastri | Restu Fadilah
Canang Bali. (Dok: Instagram/@balipura)
Canang Bali. (Dok: Instagram/@balipura)

Banyak restoran Indonesia di Jepang menggunakan nama Bali.

Suara.com - Bertempat di sebuah lokasi strategis untuk kegiatan ekonomi di Jepang, yaitu Marunouchi Building Tokyo, KBRI Tokyo menyelenggarakan Lokakarya Pembuatan Canang Bali yang mengawinkan promosi budaya dan produk Indonesia dalam acara Bazaar Indonesia pada Sabtu (10/7/2021).

Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Yusli Wardiatno menyampaikan bahwa diplomasi ekonomi dan budaya yang terintegrasi merupakan cara cerdas untuk meningkatkan hubungan bilateral Indonesia dan Jepang. Oleh karena itu, acara budaya dalam suatu pameran selalu menjadi daya tarik bagi pengunjung.

"Masyarakat Jepang sangat menghargai budaya, khususnya terhadap kebudayaan Bali yang sangat memikat. Jadi, dengan mengadakan Lokakarya Canang Bali diharapkan dapat menghadirkan pengalaman baru bagi masyarakat Jepang sehingga mereka semakin tertarik dengan budaya dan produk dari Bali," ujar Yusli.

Sementara itu, Atase Perdagangan, Arief Wibisono mengungkapkan, bahwa pihaknya sengaja mengambil tema lokakarya tentang pembuatan canang karena merupakan bagian dari budaya Bali yang disukai oleh orang Jepang. Bahkan, menurut Manajer Garuda Tokyo, Sony Syahlan, sekitar 80 persen turis Jepang yang ke Indonesia memilih Bali sebagai tujuan wisata.

Baca Juga: Novak Djokovic Ragu Ikut Olimpiade Tokyo, Kenapa?

Oleh sebab itu, banyak restoran Indonesia di Jepang menggunakan nama Bali, seperti Restoran Kuta Bali di Hachioji dan Restoran Rindu Bali di Shiga.

"Banyak sekali orang Jepang yang sudah rindu dengan Bali. Mereka ingin sekali berwisata, mencicipi kuliner, atau mencoba produk-produk dari Bali. Untuk itu, kami mencoba mengobati kerinduan mereka dengan menghadirkan kebudayaan Bali dan produk-produk dari Bali, seperti East Bali Cashew dan produk Sustainable Goods dari Baliism," ungkap Arief.

Lokakarya tersebut dibagi dalam dua sesi karena tingginya antusiasme pengunjung. Hal tersebut terlihat dari penuhnya kursi peserta lokakarya pada kedua sesi itu.