alexametrics

Pamsimas Juga Libatkan Penyandang Disabilitas

Fabiola Febrinastri | Restu Fadilah
Misbah (42), penyandang Disabilitas yang berperan aktif dalam program Pamsimas di Desa Gunung Menyan, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. (Restu Fadilah/Suara.com)
Misbah (42), penyandang Disabilitas yang berperan aktif dalam program Pamsimas di Desa Gunung Menyan, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. (Restu Fadilah/Suara.com)

Berkat Misbah, warga Desa Gunung Menyan tak kesulitan lagi mendapatkan air bersih.

Suara.com - Penyandang disabilitas sebenarnya tidak begitu berbeda dengan masyarakat pada umumnya. Namun, kelompok penyandang disabilitas kerap kali mengalami diskriminasi dalam kehidupan sehari-hari. Perbedaan anatomi dan fungsi organ seringkali menyebabkan kelompok disabilitas tersisih dari kehidupan sosial.

Kelompok penyandang disabilitas cenderung terkucilkan karena dianggap kurang memiliki potensi untuk berkembang selayaknya individu-individu lain. Padahal tuduhan tersebut tak sepenuhnya beralasan. Sebab, banyak penyandang disabilitas yang justru kemampuan dan tingkat kepedulian terhadap sesamanya lebih tinggi daripada individu normal pada umumnya.

Salah satunya adalah Misbah, Penyandang Disabilitas dari Desa Gunung Menyan, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Lelaki berusia 42 tahun itu peduli betul terhadap kebutuhan air bersih dan sanitasi di kampungnya. Misbah sadar betul bahwa ketersediaan air merupakan kebutuhan yang sangat mutlak guna keberlangsungan aktivitas kehidupan manusia. Sayangnya, di daerah tempat tinggalnya sarana untuk mendapatkan air dan sanitasi masih sangat minim.

"Kalau sumber mata airnya itu ada, dari Gunung Menyan, tapi aksesnya itu jauh," tutur Misbah ditemui usai Rakornas Program Pamsimas III pada Kamis, (25/11/2021).

Baca Juga: Buka Rakornas Pamsimas III 2021, Menteri PUPR: Kalau Program Tak Berfungsi, Laporkan!

Menurutnya diperlukan adanya sebuah infrastruktur agar air yang ada di mata air bisa tersalurkan ke rumah-rumah masyarakat. Terlebih, masyarakat yang tinggal di daerahnya beragam, ada yang sudah tua, hingga mereka yang menyandang disabilitas seperti dirinya. Sementara kebutuhan air sangat diperlukan untuk kebutuhan sehari-hari seperti memasak, minum dan mandi.

Pamsimas. (Restu Fadilah/Suara.com)
Pamsimas. (Restu Fadilah/Suara.com)

Berangkat dari hal tersebut, Misbah pun merenungkan diri mengenai apa yang bisa dilakukannya. Sampai pada waktunya, dia mendengar informasi tentang program Pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat).

Tertarik dengan program tersebut, dia pun menceritakan idenya ke perangkat desa setempat pada 2019. Selanjutnya, Misbah menghubungi Pemda untuk mengajukan proposal minat mengikuti program Pamsimas. Setelah melalui serangkaian proses, program pemerintah pusat itu datang, dia didampingi fasilitator Pamsimas bergotong royong memasang jaringan pipa untuk mengalirkan air minum dari sumber mata air yang jauh tersebut.

"Awalnya saya mengira akan dipandang sebelah mata karena keterbatasan yang saya miliki ini, tapi ternyata tidak, saya dan teman-teman penyandang disabilitas lainnya sangat dilibatkan. Kami diajak bagaimana mendesain agar Pamsimas ini juga ramah terhadap kami yang mengalami keterbatasan," katanya.

Pada kesempatan tersebut, Misbah pun mengucapkan terimakasih kepada Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) yang telah menjadi inisiator program ini. Dia berharap, program ini masih akan terus berkelanjutan, sebab masih banyak desa-desa yang kesulitan mengakses air. Tak lupa dia juga memberikan semangat pada teman-teman penyandang disabilitas lainnya untuk terus berkarya, untuk tidak malu menyampaikan gagasan yang dimiliki, apalagi jika gagasan tersebut ternyata memberikan manfaat terhadap masyarakat di lingkungan sekitarnya. Toh sudah banyak program-program pemerintah yang melibatkan kelompok penyandang disabilitas!

Baca Juga: BPJT Lakukan Evaluasi Berkala Jalan Tol, Berikut 8 Substansi Pelayanan yang Dinilai

Indah Raftiarty ER
Pranata Humas Ahli Muda Kementerian PUPR