facebook

Tak Sekadar Wujudkan Sarana Air Minum, Ini Sejumlah Dampak Positif Pamsimas

Fabiola Febrinastri | Restu Fadilah
Dok: Pamsimas
Dok: Pamsimas

Salah satunya adalah menghentikan kebiasaan masyarakat buang air besar sembarangan.

Suara.com - Setelah dijalankan selama 14 tahun, Pamsimas tiba di penghujung masa implementasinya. Program yang telah melalui empat kabinet dan dua presiden ini dijadwalkan berakhir Desember 2021.

Ini sebetulnya merupakan perpanjangan waktu dari jadwal “garis akhir” sebelumnya, yakni Desember 2020.

Pamsimas dimulai dengan 98 kabupaten dan delapan kota di Indonesia pada 2008. Di akhir tahap kedua yang berlangsung pada 2013-2015, Pamsimas telah diterapkan di lebih dari 12 ribu desa/kelurahan yang tersebar di 233 kabupaten/kota di 32 provinsi.

Untuk tahap ketiga, yang rampung pada akhir 2021, ditargetkan ada lebih dari 15 ribu desa sasaran baru; secara bersamaan akan dikelola pula keberlanjutan program di lebih dari 32.000 desa.

Baca Juga: Ini 28 Perusahaan yang Akan Jualan Kebutuhan Infrastruktur di e-Katalog LKPP

Secara nasional, ada proyek untuk menyediakan 10 juta sambungan rumah air minum. Ini gabungan dari air minum untuk perkotaan dan perdesaan. Pamsimas sendiri termasuk di dalamnya.

Selain penyediaan akses terhadap air minum dan sanitasi, Program Pamsimas meliputi beberapa hal lain yang berkaitan dengan kelangsungan penyelenggaraan dan pengelolaan prasarana dan sarana yang telah dibangun.

Program ini mengandung lima komponen, yaitu;

1.      pemberdayaan masyarakat dan pengembangan kelembagaan daerah dan desa

2.       peningkatan perilaku higienis dan pelayanan sanitasi

Baca Juga: Kementerian PUPR Tandatangani Kontrak Payung e-Katalog dengan 28 Penyedia Produk Jembatan

3.      Penyediaan sarana air minum dan sanitasi umum