Ketua DPR: Hentikan Kegaduhan Politik Sepanjang Bulan Ramadan

Fabiola Febrinastri | Dian Kusumo Hapsari
Ketua DPR: Hentikan Kegaduhan Politik Sepanjang Bulan Ramadan
Ketua DPR Bambang Soesatyo. (Suara.com/Yasir)

Bulan suci, semua kekuatan politik patut peduli dan menghormati masyarakat yang sedang melaksanakan ibadah.

Suara.com - Ketua DPR, Bambang Soesatyo mengimbau masing-masing kubu kekuatan politik untuk menghentikan kegaduhan politik sepanjang hari besar keagamaan. Bulan Suci Ramadan 1440 H tahun ini, hendaknya dijadikan momentum pemulihan hubungan antarkomunitas yang selama ini berseberangan, karena beda sentimen politik. 

Menurutnya, pemulihan hubungan hendaknya diawali dengan kesadaran bersama untuk berhenti menyemburkan ujaran kebencian,  saling tuduh, saling ancam, dan tidak lagi membuat pernyataan provokatif.  

Pada bulan suci ini, semua kekuatan politik patut peduli dan menghormati masyarakat yang sedang  melaksanakan ibadah puasa Ramadan, agar masyarakat fokus dan khusyuk. Ruang publik hendaknya bersih dari segala sesuatu yang berpotensi menganggu atau merusak kesakralan bulan suci Ramadan. 

Dua pekan lebih setelah pemungutan suara 2019, sebagian masyarakat merasa tidak nyaman, karena ruang publik masih terasa sangat bising. Kebisingan itu disemburkan oleh dua kubu yang paling berkepentingan dengan hasil perhitungan suara pemilihan presiden oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU).  Isu tentang kecurangan terus dihembuskan kedua kubu. 

Baca Juga: Ruang Kerjanya Digeledah, Anggota DPR M Nasir Nanti Bakal Diperiksa KPK

Kebisingan itu memancing perhatian sebagian publik. Ada yang menanggapinya dengan dengan sikap biasa saja, namun tak sedikit juga yang terpancing emosinya. Perilaku emosional yang dipertontonkan, kendati hanya dengan pernyataan yang provokatif, tak pelak membuat beberapa kalangan cemas atau khawatir.

Kalangan akar rumput pun sempat tergoda soal isu people power yang diwacanakan oleh kalangan tertentu. Perbincangan tentang hal-hal seperti ini bermunculan, karena perang pernyataan atau saling tuduh tentang kecurangan pemilu  tak pernah reda.  Para tokoh masyarakat sudah menggemakan imbauan agar saling tuduh itu tidak diteruskan, namun imbauan itu seperti dianggap angin lalu saja.

Menurutnya, bulan Suci Ramadan patut dijadikan momentum bagi semua  kekuatan politik untuk menahan diri dan membantu masyarakat di berbagai daerah untuk mewujudkan pemulihan hubungan antarkomunitas.

Sudah barang tentu tidak akan dipersalahkan jika masing-masing kubu kekuatan politik terus bergiat mengumpulkan bukti-bukti kecurangan, namun setiap temuan hendaknya disikapi dengan perilaku yang elegan, tanpa harus memancing atau mengoyak emosi publik.

Baca Juga: Pemindahan Ibu Kota, Jokowi Diminta Lobi Politik ke Anggota DPR Baru