alexametrics

Dua Tahun Jokowi-Maruf, Saleh Daulay Apresiasi Kesigapan Pemerintah Tangani Pandemi

Fabiola Febrinastri | Restu Fadilah
Anggota DPR RI, Saleh Partaonan Daulay. (Dok: DPR)
Anggota DPR RI, Saleh Partaonan Daulay. (Dok: DPR)

Infrastruktur kesehatan tidak semuanya siap menghadapi Covid-19.

Suara.com - Anggota Komisi IX DPR RI, Saleh Partaonan Daulay mengakui awal periode kepemimpinan Jokowi-Ma’ruf merupakan masa masa sulit dan penuh tantangan. Sebab, tidak begitu lama setelah keduanya dilantik menjadi pasangan Presiden dan Wakil Presiden RI, dunia menghadapi wabah Covid-19. Sejak saat itu, semua negara disibukkan dengan penanganan wabah tersebut, tak terkecuali Indonesia.

“Dari sisi kesehatan, pemerintah dinilai telah berupaya keras untuk memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Di awal pandemi, pemerintah terkesan agak sedikit lambat. Tetapi itu bisa dipahami mengingat persoalan Covid-19 adalah persoalan baru. Tidak ada satu negara pun yang siap menghadapinya,” ujar Saleh dalam siaran persnya, baru-baru ini.

Menurut Saleh, pemerintah layak diapresiasi atas gerak cepatnya untuk membentuk satuan tugas guna menangani persoalan kesehatan akibat Covid-19. Satuan tugas itu juga digandengkan dengan satuan tugas untuk pemulihan ekonomi nasional.

Diakui Saleh, infrastruktur kesehatan tidak semuanya siap menghadapi Covid-19. Untuk itu, di awal sekali, pemerintah menetapkan 100 rumah sakit yang menjadi rujukan Covid. “Rumah-rumah sakit ini dinilai lebih siap karena sebelumnya telah dijadikan sebagai tempat perawatan bagi masyarakat yang terpapar flu burung. Tentu, faskes-faskes ini harus dilengkapi dengan alkes dan tenaga medis yang mumpuni,” tutur politisi PAN itu.

Baca Juga: Keuangan Sudah Berdarah, Garuda Indonesia Terancam Ditutup

Seiring dengan perkembangan pandemi, ucap Saleh, pemerintah menghadapi berbagai persoalan secara fluktuatif. Puncaknya adalah pada saat tingginya penyebaran Covid di berbagai kota besar di Indonesia. Pada saat itu, semua rumah sakit penuh. Bahkan, banyak rumah sakit yang harus mendirikan tenda di sekitar halaman rumah sakit untuk menampung seluruh masyarakat yang terpapar.

"Ada banyak kendala yang harus ditangani. Untungnya, semua tenaga medis tetap siap siaga. Tidak ada yang menyerah. Kita salut kepada mereka. Persoalan kan tidak hanya soal tenaga medis dan ketersediaan tempat tidur. Waktu itu, terjadi kelangkaan oksigen. Banyak rumah sakit yang mengeluh. Begitu juga kelangkaan obat-obatan Covid. Kalaupun ada obat, harganya sangat tinggi sekali. Banyak yang tidak sanggup membeli,” tambahnya.

Semua itu adalah tantangan yang tidak ringan. Harus diakui bahwa pemerintah sangat sabar untuk menghadapi semuanya. Pada akhirnya, eskalasi yang terpapar menurun. Tingkat hunian rumah sakit juga menurun. Yang sakit dan meninggal turun drastis. Ini harus diapresiasi.

"Negara lain banyak juga yang terkejut dengan Indonesia. Bahkan, Malaysia tertinggal dengan kita. Ini harus disyukuri. Semua pihak tetap harus berkontribusi. Caranya, tetap menerapkan prokes secara ketat di semua tempat,” pungkasnya.

Baca Juga: Mau di Forum Internal atau Tertutup, Menag Yaqut Diminta Hati-hati Berucap


Twitter Dpr

Parlementaria

Berita, fakta dan informasi mengenai seputar yang terjadi di DPR-RI