Pemulihan Pascabencana Banjir Sumut Harus Didukung Data Valid
Kita harus mengawasi seluruh kegiatan yang didasari oleh keuangan, oleh uang negara, uang rakyat.
Suara.com - Upaya percepatan pemulihan pascabencana banjir di Sumatra Utara harus ditopang oleh data yang akurat dan terverifikasi. Hal itu sebagaimana disampaikan Anggota Komisi X DPR RI Sabam Sinaga saat mengikuti Kunjungan Kerja Reses Komisi X ke Medan, Sumatra Utara, Senin (23/2/2026).
Menurutnya, arah intervensi pemerintah akan lebih terarah apabila didasarkan pada data kebencanaan yang valid dan tidak tumpang tindih. Dalam pertemuan yang turut dihadiri oleh BPS Sumatra Utara itu, Sabam menyampaikan bahwa data kebencanaan harus diketahui secara pasti agar intervensi pemerintah dalam proses recovery dapat dilakukan secara terarah.
Ia menegaskan bahwa validitas data menjadi kunci utama dalam menentukan kebijakan penanganan dampak bencana.
"Jadi memang data-data mengenai kebencanaan itu kan perlu kita tahu persis. Sehingga, berdasarkan data-data tersebut, intervensi terhadap recovery-nya itu akan lebih terarah. Maka, tadi dalam pertemuan kita dengan BPS, kita sampaikan agar data-data tersebut valid, tidak ada overlapping, sehingga nantinya penanganannya tuntas sesuai dengan data yang ada,” ujar Politisi Daerah Pemilihan Sumatera Utara II tersebut.
Baca Juga: Kasatgas Tito Terus Perkuat Koordinasi Percepatan Penanganan Pascabencana Sumatera
Menurutnya, dampak bencana tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga berdampak pada kondisi ekonomi masyarakat, khususnya keluarga yang memiliki anak usia sekolah. Karena itu, data yang akurat akan membantu pemerintah dalam menentukan langkah penanganan yang tepat, termasuk terkait rumah, sekolah, serta jumlah anak terdampak.
Hal itu karena, menurutnya, pihaknya tahu persis bahwa kondisi masyarakat yang terdampak bencana itu pasti terasa secara ekonomi. Termasuk, juga akan menganggu roda kehidupan, terkhusus kepada orang tua yang anaknya bersekolah, yang bisa saja dampak dari bencana tersebut mengganggu roda ekonomi mereka.
“Maka dengan adanya data-data yang valid, maka intervensi pemerintah akan lebih terarah. Termasuk juga di dalamnya, rumahnya, sekolah, dan anak-anak yang terdampak itu seberapa banyak,” tutur Politisi Fraksi Partai Demokrat ini.
Ia juga menyoroti potensi trauma yang dialami tenaga pendidik dan anak-anak korban bencana. Oleh sebab itu, pendataan yang akurat terhadap siswa terdampak dinilai penting agar pendekatan pemulihan psikologis dapat dilakukan secara tepat.
"Karena kita tahu juga anak-anak yang terdampak itu kan bisa saja mereka mengalami trauma. Maka ketika data-data anak-anak sekolah yang terdampak itu betul-betul didapatkan, maka pendekatan-pendekatan untuk mengubah atau me-healing terhadap psikologis mereka itu akan jauh lebih terarah," jelasnya.
Baca Juga: Kasatgas Tito: Pengungsi Berkurang Signifikan dan Roda Ekonomi Kembali Berputar
Karenanya, Sabam menegaskan perlunya sinkronisasi dan verifikasi ulang terhadap data yang dihasilkan berbagai kementerian dan lembaga untuk mencegah terjadinya tumpang tindih. Ia menilai data tunggal yang telah diverifikasi menjadi dasar penting dalam penyampaian informasi kepada publik maupun pemerintah.
"Memang harus ada sinkronisasi data. Kan bisa saja data-data yang dihasilkan oleh KL (Kementerian/Lembaga) lain itu kan perlu diverifikasi ulang. Karena bisa saja terjadi overlapping, maka dibutuhkan ada semacam validasi data. Maka data tunggal itu adalah menurut saya itu data yang memang betul-betul harus diverifikasi, sehingga itulah data-data yang benar yang akan disampaikan ke publik termasuk juga kepada pemerintah seperti itu,” beber Sabam.
Lebih lanjut, sebagai bagian dari fungsi pengawasan DPR, Sabam menegaskan bahwa seluruh program yang menggunakan keuangan negara harus diawasi agar output-nya sesuai dengan indikator kinerja yang telah ditetapkan.
"Dan sekali lagi kami berharap bahwa kerja-kerja itu menjadi bahagian dari moto kita semua, termasuk di dalamnya BPS untuk menghasilkan data yang betul-betul akurat. Kita harus mengawasi seluruh kegiatan yang didasari oleh keuangan, oleh uang negara, uang rakyat. Uang yang betul-betul harus outputnya sesuai dengan KPI yang disampaikan," tutupnya.***
