Anggota Komisi VI Anggap Presiden Coba-coba dalam "Reshuffle"

Arsito Hidayatullah | Dian Rosmala
Anggota Komisi VI Anggap Presiden Coba-coba dalam "Reshuffle"
Anggota Komisi VI DPR RI, Bambang Haryo Soekartono. [DPR]

Meski begitu, Bambang mengapresiasi masuknya Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan.

Suara.com - Dalam satu setengah tahun terakhir, Presiden Joko Widodo (Jokowi) diketahui sudah melakukan dua kali reshuffle (perombakan kabinet). Menurut salah satu anggota DPR RI, kalau terjadi reshuffle ketiga, maka akan kian menandaskan bahwa kabinet ini adalah kabinet "coba-coba". Kabinet pun menurutnya bisa kehilangan kredibilitasnya.

Ditemui di ruang kerjanya, Kamis (28/7/2016), anggota Komisi VI DPR RI, Bambang Haryo Soekartono, melontarkan kritiknya terhadap reshuffle kali ini.

"Dalam waktu satu setengah tahun, reshuffle sampai 2 kali. Ini kabinet 'coba-coba'. Mestinya Presiden tidak melakukan coba-coba, karena ini untuk kepentingan bangsa dan negara. Kalau sampai terjadi reshuffle ketiga, berarti kabinet ini benar-benar kabinet coba-coba," ujarnya.

Banyak posisi menteri yang mendapat kritikan tajam dari politisi Partai Gerindra ini. Menurutnya, Menpora, Menkes, Mentan dan Menteri BUMN, mestinya masuk dalam jajaran menteri yang di-reshuffle. Hal itu karena kinerja kementerian tersebut dinilai buruk.

Mentan misalnya, di mata Bambang dinilai gagal dalam mencapai target swasembada pangan. Menurutnya, di era Amran Sulaiman, justru 11 komoditas pangan yang penting tidak terjaga mutu, jumlah dan harganya. Bahkan gula, kedelai, beras, sampai daging, justru banyak diimpor.

"Saya masih pesimis dengan perubahan kabinet kali ini. Di bidang ekonomi, tidak pernah ada evaluasi terhadap situasi ekonomi. Contoh, 12 paket kebijakan ekonomi tidak berdampak signifikan. Ini mengakibatkan ekonomi kita melambat," tegas Bambang.

Namun begitu, Bambang sedikit mengapresiasi masuknya Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan. Dengan masuknya Sri Mulyani, tim ekonomi diharapkannya bisa kembali solid.

Terpilihnya Airlangga Hartanto sebagai Menteri Perindustrian juga diapresiasi oleh Bambang. Airlangga dinilainya sebagai orang yang kapabel, meski menurutnya lebih tepat lagi bila ditempatkan sebagai Menteri Perdagangan. Justru Enggartiasto Lukita dinilainya tidak kapabel di perdagangan. Bambang mengaku khawatir, apa yang sudah dirintis Thomas Lembong malah tidak bisa diteruskan oleh Enggar.

"Pak Lembong orang yang tepat. Dia punya hubungan internasional yang sangat baik," katanya.

Ditambahkan Bambang, pemerintah harus lebih fokus pada pembenahan sektor pangan dan ekonomi. Dua sektor ini menurutnya masih menjadi sumber kegaduhan. Lainnya, yang juga perlu pembenahan mendesak menurutnya adalah pembangunan karakter manusia Indonesia, di mana rasa kebangsaan kerap terkikis dan pemberdayaan SDM andal terlupakan. Untuk itu menurutnya, perlu menempatkan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan yang handal.

Sektor hukum dan pertahanan keamanan juga masih mendapat nilai minus di mata Bambang. Penegakan hukum di matanya masih sangat lemah, sementara kasus penyanderaan WNI oleh kelompok Abu Sayyaf di Filipina, menjadi bukti anak bangsa tak cukup mendapat perlindungan.

Sementara, mengomentari lengsernya Rizal Ramli dari kursi Menko Maritim, Bambang menilai sudah tepat. Rizal menurutnya kerap mencari pencitraan dan popularitas saja. Menurutnya, banyak kebijakan Rizal yang tak sesuai dengan ekspektasi masyarakat.

Salah satu yang ia contohkan adalah kebijakan Rizal membuka kembali jalur kereta ke Pelabuhan Tanjung Priok. Itu menurutnya akan mengacaukan jalur sebidang, serta pada akhirnya mengganggu arus lalu lintas perkotaan dengan bertambahnya rangkaian kereta barang. [DPR]