Komisi X Prihatin dengan Banyaknya Siswa SD Putus Sekolah

Arsito Hidayatullah | Dian Rosmala
Komisi X Prihatin dengan Banyaknya Siswa SD Putus Sekolah
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Sutan Adil Hendra (tengah). [DPR]

Selain faktor ekonomi, program yang kurang tepat sasaran juga harus menjadi perhatian.

Suara.com - Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Sutan Adil Hendra, menyatakan rasa prihatinnya akibat tingginya angka putus sekolah di kalangan siswa Sekolah Dasar (SD). Menurutnya, saat ini terdapat 31 juta siswa sekolah dasar di Indonesia, namun hampir 500 ribu lebih siswa SD harus putus sekolah.

"Indonesia telah merdeka selama 71 tahun, (tapi) ternyata sampai tahun ini masih banyak siswa SD yang putus sekolah dan tidak bisa melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi," ujar Sutan di sela-sela rapat kerja dengan Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta, Kamis (13/10/2016).

Menurut politisi F-Gerindra itu, angka ini secara persentase memang kecil. Namun jika dilihat jumlahnya cukup besar, yakni 500 ribu siswa SD harus putus sekolah tiap tahun.

"Jika tidak ada perbaikan, maka dalam satu dasawarsa ada 5 juta anak kita yang kehilangan potensi masa depan karena putus sekolah. Ke depan akan menjadi masalah bangsa. Mau kerja apa mereka? Dari mana sumber ekonomi mereka?" jelas Sutan.

Menurutnya lagi, banyak hal yang menyebabkan mereka putus sekolah, salah satunya adalah karena permasalahan ekonomi. Selain itu, kebijakan pendidikan dalam bentuk beasiswa massal seperti Program Indonesia Pintar (PIP) juga masih banyak kurang tepat sasaran.

"Terus terang, saya sangat sedih melihat kondisi ini. Bagaimana mungkin di saat kita sudah sampai final membicarakan perluasan akses pendidikan, peningkatan mutu dan persaingan global, tapi faktanya tiap tahun setengah juta anak-anak kita harus berhenti di sekolah dasar," jelasnya.

Walaupun menyedihkan, politisi asal dapil Jambi itu mengatakan bahwa fakta inilah yang saat ini harus disikapi bersama, melalui program yang lebih menyentuh mereka yang kurang mampu.

Dijelaskan, berdasarkan Ikhtisar Data Pendidikan Kemendikbud Tahun 2015/2016, siswa yang lulus SD tetapi tidak melanjutkan ke SMP mencapai 946.013 orang. Ditambah dengan jumlah siswa yang melanjutkan ke SMP tetapi tidak lulus (51.541 orang), maka ada 997.554 anak Indonesia yang hanya berstatus tamatan SD pada 2015/2016.

Situasi cukup memprihatinkan, karena ada 68.066 anak lainnya yang bahkan tidak melanjutkan studi di SD pada 2015/2016. Kalau hal ini terus terjadi setiap tahun dan tidak dilakukan terobosan, maka jumlah orang Indonesia yang maksimal hanya memegang ijazah SD akan terus meningkat.

Adapun siswa yang lulus SMP tetapi tidak melanjutkan studi ke SMA/SMK mencapai 99.406 orang. Ditambah dengan jumlah siswa SMA/SMK yang gagal melanjutkan studi (118.353 orang), maka total warga Indonesia yang hanya memegang ijazah SMP pada 2015/2016 adalah 217.759 orang. Padahal sementara itu, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) 2030 menghendaki agar pada tahun 2030 seluruh warga dunia bisa mengenyam pendidikan hingga SMA/SMK. [DPR]