Anggota Dewan Tolak Rencana Menpora Batalkan PON Remaja 2017
Jika alasannya efisiensi anggaran, maka pemahaman pemerintah dinilai terlalu dangkal.
Suara.com - Rencana pemerintah membatalkan pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) Remaja 2017 di Jawa Tengah mendapat penolakan keras dari Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Sutan Adil Hendra. Pihaknya menyesalkan keputusan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) yang memandang keberadaan PON Remaja hampir sama dengan Pekan Olahraga Pelajar Nasional (Popnas).
Sutan menilai, jika efisiensi anggaran menjadi alasan Kemenpora meniadakan event tersebut, maka hal itu menunjukkan dangkalnya pemahaman pemerintah tentang fungsi dan sasaran dari PON Remaja.
"Event ini penting untuk menghasilkan atlet potensial untuk level senior. Menpora terlalu memandang sempit PON Remaja dan Popnas sebagai event yang sama," tegas Sutan, melalui sambungan telepon, Selasa (8/11/2016).
Menurut politisi Fraksi Partai Gerindra itu, dengan meniadakan PON Remaja, berarti akan ada kekosongan pembinaan di level junior. Padahal menurutnya, event ini juga berfungsi mempersiapkan atlet untuk diturunkan di Asian Youth Games dan Youth Olympic Games 2017. Sementara Popnas lebih dipersiapkan untuk Asian School Games.
Untuk itu, politisi asal daerah pemilihan Jambi itu meminta kepada Menpora agar dalam memutuskan sesuatu melibatkan KONI Pusat untuk memberi masukan dan pertimbangan. Dengan kata lain, ia meminta Menpora mendengarkan pandangan dari pihak lain seperti KONI.
"Kita menilai ini akan menjadi kekosongan pembinaan antara level junior dan senior secara sistematis. Apalagi (jika) peniadaan PON Remaja lebih disebabkan alasan efisiensi dan waktu," imbuh Sutan.
Sebelumnya diketahui bahwa Kemenpora berencana membatalkan pelaksanaan PON Remaja 2017 di Jawa Tengah karena alasan efisiensi anggaran. Kepala Komunikasi Publik Kemenpora, Gatot S Dewa Broto mengatakan, pihaknya harus memilih salah satu di antara PON Remaja dan Popnas.
Menurut Gatot, untuk memilih antara Popnas dengan PON Remaja ini, pihaknya memang melakukan kajian, sehingga diketahui keunggulan dan kelemahannya. Hanya saja, hingga saat ini pihaknya belum memberikan keputusan resmi terkait pembatalan PON Remaja yang rencananya digelar Juni 2017.
Lebih dipilihnya Popnas, kata Gatot pula, karena kejuaraan ini mempertandingkan cabang olahraga yang banyak dipertandingkan pada kejuaraan-kejuaraan internasional. Sedangkan untuk PON Remaja cabang olahraganya dinilai tidak terlalu signifikan untuk jenjang berikutnya.
"Memang semuanya ada plus-minusnya. Tapi (kita) harus segera punya sikap terkait hal ini. Kami juga akan mengirimkan surat ke Gubernur Jawa Tengah, supaya persiapan yang dilakukan tidak terlalu jauh. Mumpung masih segini," jelas Gatot.
PON Remaja sebelumnya diketahui mempertandingkan 23 cabang olahraga, dengan batasan usia yang bisa turun di kejuaraan ini adalah 17 tahun. Sedangkan Popnas yang dijadwalkan juga digelar di Jawa Tengah pada September 2017, akan mempertandingkan 20 cabang olahraga. [DPR]
