PT. Sampoerna Diharap Jadi Pionir Industri Rokok Ramah Lingkungan

Fabiola Febrinastri
PT. Sampoerna Diharap Jadi Pionir Industri Rokok Ramah Lingkungan
DPR mengunjungi pengelolaan limbah PT. HM Sampoerna Tbk di Sukorejo, Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu (26/5/2018). (Sumber: Istimewa)

Industri rokok perlu meningkatkan inovasi dan pengembangan teknologi.

Suara.com - Industri rokok tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat, konsumsi besar harus diimbangi dengan produksi yang besar. Namun di sisi lain, jumlah produksi yang besar akan memberikan dampak terhadap lingkungan.

Sebagai salah satu market leader di Indonesia, dengan pangsa pasar sebesar 37,5 persen, PT. HM Sampoerna Tbk diharapkan menjadi pionir bagi industri rokok yang ramah lingkungan.

Demikian mengemuka dalam kunjungan kerja Komisi VII DPR terkait pengelolaan limbah PT. HM Sampoerna Tbk di Sukorejo, Pasuruan, Jawa Timur, Sabtu (26/5/2018). Kunjungan kerja ini dipimpin oleh Wakil Ketua Komisi VII, Syaikhul Islam Ali.

Turut dalam kunker, anggota Komisi VII, diantaranya Kurtubi (F-NasDem), Ridwan Hisjam (F-Golkar) dan Ihwan Datu Adam (F-Demokrat) dan pejabat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) RI.

Syaikhul mengatakan, perusahaan di bawah naungan Philip Morris International tersebut merupakan salah satu perusahaan yang patut menjadi contoh bagi industri rokok nasional dalam pengelolaan limbah dan pelestarian lingkungan. Hal ini terbukti dari keberhasilannya meraih Penilaian Peringkat Kinerja Perusahaan (Proper) Hijau selama 3 tahun berturut-turut.

“Kami melihat, PT Sampoerna termasuk perusahaan yang cukup patch dalam pengelolaan limbahnya, seperti yang diatur KLHK. Proper yang sudah hijau ini kami dorong agar ditingkatkan ke Emas, sehingga dapat menjadi pionir bagi industri rokok lainnya,” ungkapnya, usai memimpin peninjauan kawasan pabrik.

Berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, politisi F-PKB ini mengatakan, hanya 19 perusahaan di Indonesia yang berhasil meraih Proper Emas dan 150 perusahaan Proper Hijau, sementara yang mendapatkan Proper Biru sekitar 1.486 perusahaan, termasuk perusahaan rokok lainnya.

Menurutnya, untuk meningkatkan capaian proper tersebut, industri rokok perlu meningkatkan inovasi dan pengembangan teknologi ramah lingkungan, mulai dari proses produksi hingga hasil akhir. Tak hanya itu, diperlukan juga pengembangan pola industri sehingga dapat mengurangi pemborosan sumber daya.

“Apalagi limbah B3 dari indsutri rokok tidak terlalu banyak, jadi mudahlah menuju industri yang ramah lingkungan,” sambung politisi dapil Jawa Timur itu.

Anggota Komisi VII, Ridwan Hisjam juga mendorong PT. HM Sampoerna Tbk meningkatkan capaian propernya dengan memperbanyak corporate social responsibility (CSR). Selain bermanfaat bagi lingkungan, kegiatan CSR juga melibatkan masyarakat, sehingga menjadi sarana edukasi bagi warga untuk ikut serta melestarikan lingkungan.

“Perusahaan yang baik harus memikirkan lingkungan yang sustainable, sehingga indsutrinya pun akan berjalan dengan baik. Saya kira industri yang ramah lingkungan sudah menjadi tuntutan global saat ini,” tandas politisi dapil Jawa Timur V itu.


Twitter Dpr

Parlementaria

Berita, fakta dan informasi mengenai seputar yang terjadi di DPR-RI