Komisi I DPR : Sosialisasikan Nilai Kebangsaan, Tak Mudah

Fabiola Febrinastri
Komisi I DPR : Sosialisasikan Nilai Kebangsaan, Tak Mudah
Anggota Komisi I DPR RI dari F-PDI Perjuangan, Efendi Simbolon. (Dok : DPR)

Pelaksanaan sosialisasi ini, kendalanya banyak sekali di lapangan.

Suara.com - Anggota Komisi I DPR RI dari F-PDI Perjuangan, Efendi Simbolon menyampaikan, sepanjang pengalamannya selama 15 tahun sebagai wakil rakyat, mensosialisasikan nilai-nilai kebangsaan yang bukan menjadi kebutuhan langsung masyarakat, tidaklah mudah.

"Berbeda dengan kebutuhan setingkat nilai-nilai agama. Ada keyakinan dan kekuatan diri untuk menjalankan ajaran agama dengan khusuk. Ada keinginan terhadap keselamatan, kesejahteraan, rezeki, berbuat baik, dan akhirnya masuk surga. Mendengar dan melaksanakannya," tuturnya, dalam sebuah diskusi di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Kamis (21/3/2019).

Politisi yang dikenal vokal itu menegaskan bahwa pelaksanaan sosialisasi ini, kendalanya banyak sekali di lapangan. Kegiatan tidak sepenuhnya menjadi gerakan ideologis seluruh elemen masyarakat.

"Seringkali ini hanya menjadi aktivitas formalitas dan kewajiban bagi anggota DPR dan MPR. Di awal pelaksanaan sosialisasi tepatnya, di era Taufik Kiemas, saya pernah menyarankan metode penyampaiannya jangan one way, tetapi interaksi ala kelompencapir, yaitu kelompok pendengar, pembaca, dan pemirsa, di era Orde Baru zaman Pak Harto," ungkapnya.

Baca Juga: DPR : Stunting Erat Kaitannya dengan Pola Hidup

Gagasan Effendi itu disambut positif oleh Ketua Komunitas Anak Bangsa (KAB), Agnes Lourda Budidarma. Menurut penilaiannya, secara tidak langsung, apa yang disampaikan Effendi merupakan self kritik.

"Apalagi masyarakat, termasuk generasi muda butuh pengetahuan dan pendalaman tentang bangsa dan negara sebagai modal yang akan mampu memperkuat mental mereka kelak. Kita bisa mencapai generasi muda yang berkualitas, tidak hanya secara intelektual tapi juga secara mental dan spiritual," tegas bekas aktivis GMNI itu.

Ia ingin, masa depan generasi Indonesia seperti di Jepang. Nilai kebangsaannya tinggi, tidak mudah terpengaruh.

"Mentalnya kuat, etos kerjanya sangat baik dan kalau perlu dilakukan dengan doktrin asalkan caranya jangan sampai salah," cetusnya.

Melanjutkan penjelasannya, Effendi mengakui kalau hal-hal yang sangat mendasar menanamkan ideologi berbangsa dan negara, justru belum dipahami khalayak luas.

Baca Juga: Ketua DPR Dukung Modernisasi Alutsista TNI

"Saya berharap, baik pimpinan MPR dan DPR harus mampu menyempurnakan ini," pungkasnya.


Twitter Dpr

Parlementaria

Berita, fakta dan informasi mengenai seputar yang terjadi di DPR-RI