facebook

Puan Maharani: Jadikan HKN Momentum Perbaikan Gizi Generasi Penerus Bangsa

Fabiola Febrinastri | Restu Fadilah
Ketua DPR RI, Puan Maharani saat kunjungan kerja. (Dok: DPR)
Ketua DPR RI, Puan Maharani saat kunjungan kerja. (Dok: DPR)

Keluarga merupakan pondasi penting awal pembangunan karakter bangsa.

Suara.com - Ketua DPR RI, Puan Maharani mengajak masyarakat untuk menjadikan Hari Keluarga Nasional (HKN) yang diperingati setiap tanggal 29 Juni sebagai momentum perbaikan gizi bagi generasi penerus bangsa. Salah satu caranya adalah dengan pencegahan stunting atau permasalahan gizi kronis.

“Selamat memperingati Hari Keluarga Nasional tahun 2022 untuk seluruh keluarga di Indonesia. Mari kita jadikan momen Hari Keluarga Nasional untuk lebih aware lagi terhadap persoalan gizi anak,” kata Puan dalam keterangan tertulisnya pada Rabu, (29/6/2022).

Menurutnya, gizi anak sangat menentukan kualitas generasi penerus bangsa.

“Indonesia akan maju jika memiliki sumber daya manusia (SDM) yang unggul sehingga isu perbaikan gizi anak harus menjadi prioritas,” imbuh mantan Menko Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) itu.

Baca Juga: Wakil Ketua Banggar Muhidin Muhammad Said Terjatuh Saat Sidang Paripurna

Puan pun mengingatkan, keluarga merupakan pondasi penting awal pembangunan karakter bangsa. Keluarga memiliki 8 fungsi yaitu agama, sosial budaya, cinta kasih, melindungi, reproduksi, pendidikan, ekonomi, dan fungsi pembinaan lingkungan untuk mewujudkan keluarga yang berketahanan.

“Dalam hal perbaikan gizi anak, secara konkret keluarga dapat mewujudkannya lewat pemberian nutrisi yang seimbang sejak ibu mengandung, memberikan kesempatan ibu dan bayi untuk bersalin dengan aman dan nyaman, memberikan ASI eksklusif, serta memperhatikan tumbuh kembang anak,” papar Puan.

Untuk mewujudkan hal tersebut, DPR tengah menggodok Rancangan Undang-Undang Kesejahteraan Ibu dan Anak (RUU KIA) sebagai salah satu upaya Negara dalam membantu keluarga merawat anak agar memiliki tumbuh kembang yang ideal. Salah satu fokus dalam RUU KIA, kata perempuan pertama yang menjadi Ketua DPR itu, adalah untuk pengentasan stunting di Indonesia.

“Di tengah tantangan pandemi yang belum usai, Indonesia masih harus fokus dalam menurunkan kasus stunting. Karena pada anak stunting, mereka memiliki daya memahami yang rendah. Tentunya ini menjadi kendala jika kita ingin memiliki SDM yang unggul,” jelas politisi PDI-Perjuangan tersebut.

Puan menyoroti hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) Kementerian Kesehatan tahun 2021, di mana angka prevalensi stunting di Indonesia masih sebesar 24,4 persen. Menurutnya, RUU KIA akan membantu Indonesia mencapai target angka prevalensi stunting di tahun 2024, di bawah 14 persen.

Baca Juga: Sempat Tumbang Saat Rapat Paripurna, Wakil Ketua Banggar DPR RI Muhidin Masih Sadar, Lanjut Cek Hipertensi

“Untuk itu diperlukan gotong royong dari segenap elemen bangsa. Upaya pencegahan stunting dapat dilakukan sejak sebelum perkawinan hingga 1.000 hari fase kehidupan anak, yang pedomannya akan diatur melalui RUU KIA,” sebut Puan.


Twitter Dpr

Parlementaria

Berita, fakta dan informasi mengenai seputar yang terjadi di DPR-RI