Asumsi Pertumbuhan Ekonomi Telah Pertimbangkan Risiko dan Prospek

Fabiola Febrinastri | Dian Kusumo Hapsari
Asumsi Pertumbuhan Ekonomi Telah Pertimbangkan Risiko dan Prospek
Ketua DPR, Bambang Soesatyo dan Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati, saat menyerahkan berkas RUU APBN 2020 beserta nota keuangannya dalam rapat paripurna DPR. (Dok : DPR).

Pemerintah telah memantau sejak awal tahun, soal target pertumbuhan ekonomi.

Suara.com - Asumsi pertumbuhan ekonomi tahun 2020 yang ditargetkan pemerintah sebesar 5,3 persen, ternyata telah mempertimbangkan faktor risiko dan prospek ekonomi masa depan. Pemerintah juga mengklaim telah memantau sejak awal tahun soal target pertumbuhan tersebut, baik dari sisi global maupun domestik.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menyampaikan hal ini dalam pidatonya menanggapi pandangan fraksi-fraksi DPR atas RUU APBN 2020 beserta nota keuangannya pada Rapat Paripurna DPR, Jakarta, Selasa (27/8/2019).

Menkeu menghargai semua masukan dan kritik konstruktif sebagai bahan berharga dalam membahas RAPBN 2020. Rapat paripurna ini sendiri dipimpin langsung Ketua DPR, Bambang Soesatyo, di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta.

“Sejalan dengan peningkatan ketidakpastian global dan meningkatnya perang dagang, yang menyebabkan terjadinya risiko perlemahan ekonomi dunia, pemerintah akan terus mewaspadai perkembangan situasi tersebut dan dampaknya terhadap perekonomian nasional. Meskipun di tengah gejolak dan perlemahan perekonomian global, perekonomian Indonesia tetap mampu tumbuh stabil dan secara bertahap tetap menunjukkan tren peningkatan,” urai Menkeu.

Baca Juga: Jokowi Sebut Kaltim Ibu Kota Baru, JK: DPR dan Pemerintah yang Memutuskan

Menurutnya, realisasi pertumbuhan ekonomi sampai semester I 2019 yang mencapai 5,06 persen, menunjukkan kuatnya permintaan domestik dengan stabilnya konsumsi masyarakat, pemerintah, dan dukungan investasi domestik saat kinerja neraca perdagangan yang masih menghadapi tantangan.

Sri menambahkan, asumsi pertumbuhan 5,3 persen pada RAPBN 2020 itu memiliki risiko ke bawah yang makin meningkat. Untuk mencapai asumsi tersebut, lanjut Menkeu, diperlukan langkah-langkah radikal dan fundamental seluruh kementerian/lembaga dan pemda untuk mendorong investasi dan menjaga konsumsi sebagai penyeimbang melemahnya kondisi eksternal.

Pemerataan pembangunan lima tahun terakhir, pembangunan infrastruktur, tol laut, reformasi pertanahan, dan lain-lain, yang dilakukan pemerintah saat ini diharapkan menjadi fondasi kuat dalam mendukung pertumbuhan ekonomi jangka menengah dan panjang.

Kinerja investasi akan mengambil peran penting dalam mendorong percepatan pertumbuhan ekonomi ke depan.

“Untuk itu, pemerintah telah berupaya menyelesaikan berbagai hambatan dan melakukan berbagai terobosan kebijakan yang tepat melalui perbaikan dan penyederhanaan regulasi untuk mempermudah usaha, promosi investasi, pendalaman sektor keuangan, dan peningkatan partisipasi swasta. Di samping itu pemerintah juga akan memberikan dukungan dalam bentuk insentif fiskal maupun non fiskal,” papar Menkeu lagi dalam pidatonya.

Baca Juga: Power Point Jokowi Terkait Pemindahan Ibu Kota Bakal Disebar ke Anggota DPR

Namun pemerintah sendiri, bersama otoritas moneter dan jasa keuangan terus memantau sekaligus menyiapkan langkah antisipatif untuk merespon dinamika ketidakpastian perekonomian global yang dapat memengaruhi momentum pertumbuhan perekonomian nasional.


Twitter Dpr

Parlementaria

Berita, fakta dan informasi mengenai seputar yang terjadi di DPR-RI