alexametrics

DPR : Satwa di Taman Nasional Baluran harus Tetap Lestari

Fabiola Febrinastri
Ketua Komisi IV DPR RI, Sudin. (Dok : DPR)
Ketua Komisi IV DPR RI, Sudin. (Dok : DPR)

Taman Nasional Baluran harus memiliki kendaraan pemadam kebakaran sendiri.

Suara.com - Ketua Komisi IV DPR RI, Sudin menyampaikan, Taman Nasional Baluran di Situbondo, Jawa Timur harus tetap dilestarikan. Taman Nasional tersebut memiliki khas satwanya seperti banteng, kerbau liar dan lain sebagainya. Pelestarian bisa dilakukan, salah satunya dengan penambahan biaya maupun tenaga kerja.

“Tadi kita sudah melihat banteng, kemudian juga melihat kerbau liar mungkin ini harus tetap dilestarikan. Dengan apa? Dengan penambahan biaya maupun tenaga kerja. Karena tadi saya tanyakan seluruh tenaga kerjanya 103 orang, dengan luasan 25.000 hektare itu kan hal yang sangat sulit sekali, baik itu menjaga suaka, menjaga yang lain-lain,” ungkap Sudin, di Taman Nasional Baluran, Situbondo, Jatim, Kamis, (25/3/2021).

Lebih lanjut, Sudin menyoroti ketersediaan infrastruktur kendaraan yang dimiliki oleh Taman Nasional Baluran. Menurutnya, Taman Nasional Baluran harus memiliki kendaraan pemadam kebakaran sendiri guna mengantisipasi apabila terjadi kebakaran di musim kemarau. Jika memiliki kendaraan pemadam kebakaran sendiri, maka akan lebih cepat dilakukan pemadaman.

“Pada bulan 7, 8, 9 ini kan kemarau panjang cenderung ada kebakaran. Bagaimana mengantisipasinya? Kalau memang harga mobil pemadam kebarakan itu terlalu mahal, ya beli yang murahlah tidak usah pakai blangwir (mobil damkar), tapi mobil tangki atau motor dimodifikasi bisa nyemprot air untuk mematikan api. Ini yang saya inginkan. Karena kemarin saya juga ke Taman Way Kambas di Lampung, ya seperti itu juga kendalanya tenaga kerja, sarana dan pra sarana, dan lain-lain,’ ungkap Sudin.

Terkait dengan anggaran, politisi Fraksi PDI Perjuangan itu Sudin berharap terjadi pemotongan anggaran pada Taman Nasional Baluran. Menurutnya untuk pencegahan kebakaran maupun peningkatan konservasi maka perlu dukungan anggaran yang cukup besar, kalau tidak maka taman nasional ini akan rusak dan habis.

“Seharusnya tidak ada pemotongan, kemarin hampir Rp 500 milyar lebih yang dipotong. Saya berharap di Tahun 2022 khusus untuk konservasi jangan dipotong. Saya akan bertahan, juga saya yakin teman-teman Anggota Komisi IV lain setuju. Kalau ga dijaga, habis. Yang sudah rusak, ya di perbaiki, yang masih bagus dipertahankan dan ditingkatkan, kan gitu,” ujar Sudin.

Sudin menekankan bahwa Taman Nasional Baluran memiliki ciri khas stwanya yang harus dipertahankan dan dijaga seperti taman nasional lainya. Di Baluran ada Banteng, di Lampung ada Gajah, di Taman Nasional Ujung Kulon ada Badak, itu yang menjadi khas masing-masing. “di Kalimantan Tengah ada OrangUtan, tapi disana tidak ada gajah, tidak ada banteng. Jadi ciri khas masing-masing ini harus di pertahankan, kalau perlu di tingkatkan,” ucapnya.

Sudin juga berharap, dilakukan penelitian-penelitian yang lebih intensif terhadap satwa-satwa yang dilindungi, terutama satwa yang habitatnya sangat sedikit. Hal itu harus dilakukan guna mengantisipasi kepunahan yang terjadi.

“Jangan sampai sudah pada punah baru dilakukan penelitian, di sini ada banteng yang sudah tua, mati di kubur. Saya bilang kenapa tidak diobservasi? Seharusnya kan diobservasi kemudian bisa dimasukkan ke museum,” harap Sudin.

“Indonesia belum punya museum. Makanya saya bilang, harus bangun museum, 5 tahun lagi mungkin anak cucu kita bertanya harimau itu seperti apa sih? Sama seperti kita mungkin jutaan tahun lalu melihat ada namanya mamoth atau dinasaurus, kan kita enggak tahu. Seperti komodo di NTT, itu harus tetap di lestarikan,” harapnya.


Twitter Dpr

Parlementaria

Berita, fakta dan informasi mengenai seputar yang terjadi di DPR-RI