Jaga Perairan Indonesia, DPR Dukung Penguatan Alutsista TNI-AL

MN Yunita
Jaga Perairan Indonesia, DPR Dukung Penguatan Alutsista TNI-AL
Ketua DPR, Bambang Soesatyo bertemu dengan Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana TNI Siwi Sukma Adji, di Jakarta. (Dok: DPR)

Ini sesuai dengan visi menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

Suara.com - Ketua DPR RI, Bambang Soesatyo memandang bahwa wilayah perairan Indonesia dengan luas lautan mencapai 3,25 juta km atau 70 persen terdiri dari perairan tidak boleh dianggap remeh. Karena itu, keberadaan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI-AL) yang didukung alat utama sistem pertahanan (Alutsista) harus senantiasa diperkuat. Hal ini sejalan dengan visi Presiden Joko Widodo menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

“Tidak hanya melakukan pembangunan yang land-oriented, Presiden Jokowi juga memperkuat sea-oriented. Terbaru, pemerintah sudah meresmikan dermaga TNI Angkatan Laut Tawiri Ambon. TNI-AL juga belum lama ini menerima tambahan kekuatan baru berupa dua Kapal Angkatan Laut yang diproduksi di dalam negeri," ujar Bamsoet, usai bertemu Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Laksamana TNI Siwi Sukma Adji, di Jakarta, Jumat (25/1/2019).

Ia juga mengingatkan TNI-AL agar senantiasa memperkuat early warning system (EWS), sehingga bisa meminimalisir potensi pelanggaran hukum di perairan Indonesia. Seperti illegal fishing, pembajakan, sabotase, penyelundupan, maupun mengantisipasi kegiatan spionase. Kerja sama TNI-AL dengan berbagai kementerian dan instansi lainnya harus selalu diperkuat.

“Seperti yang sudah terlihat pada kerjasama dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam memberantas illegal fishing, maupun dengan Badan Narkotika Nasional dan Bea Cukai dalam memberantas penyelundupan narkoba. Jika semua lembaga negara bisa terkoordinasi dengan baik, berbagai masalah apapun akan bisa dihadapi secara seksama," terang Bamsoet.

Baca Juga: Bambang Soesatyo Ingin DPR Tak Ada Jarak dengan Rakyat

Tak hanya itu, Bamsoet yang merupakan warga kehormatan TNI-AL ini juga mengingatkan agar kerja sama dengan tentara angkatan laut dari berbagai negara lain juga harus diperkuat. Selain untuk meningkatkan kemampuan tempur prajurit, kerjasama Internasional juga penting untuk saling tukar informasi dan sharing ilmu pengetahuan. 

“TNI-AL perlu memaksimalkan peranannya di sektor leading of maritime diplomacy. Peran aktif TNI-AL dalam menjalin kerjasama dengan angkatan laut negara lain, maupun kehadiran TNI-AL di berbagai forum Internasional harus memperkuat kebijakan politik luar negeri pemerintah. Khususnya, dalam menegaskan garis batas wilayah kedaulatan perairan Indonesia," jelasnya.

Bamsoet juga menyebut penegasan garis batas sangat penting. Mengingat konflik Laut Cina Selatan yang tidak kunjung selesai menyebabkan berbagai potensi masalah hukum yang dihadapi Indonesia maupun negara-negara Asia Tenggara lainnya  seperti yang terjadi di perairan bagian utara Kepulauan Natuna. Tiongkok sempat mengklaim wilayah perairan bagian utara Kepulauan Natuna masuk dalam wilayah perairan mereka.

“Sementara, negara-negara sekitar Asia Tenggara sudah sejak dulu mengakui wilayah tersebut merupakan kedaulatan Indonesia. TNI-AL melalui fungsi diplomasi maritim, perlu untuk memperkuat penegasan yang sudah disampaikan pemerintah. Jangan ragu-ragu menindak kapal maupun nelayan asing yang mengklaim dan masuk seenaknya ke wilayah perairan Indonesia," pungkas Bamsoet.

Baca Juga: DPR Diharapkan Makin Terbuka dan Responsif


Twitter Dpr

Parlementaria

Berita, fakta dan informasi mengenai seputar yang terjadi di DPR-RI